Kamis menjelang sore, kumulai lembaran kenangan yang tersimpan dahulu di sebuah sekolah menengah pertama. Ku kenang manis senyuman pagi, yang kini terselip duka. Memori-memori indah bersamanya dulu yang diakhiri dengan kalimat-kalimat perpisahan yang menggetarkan hati. Sosok pahlawan pendidikan yang tak asing di mataku, kini harus menghapus jejaknya dari tembok hijau itu.
Sulitnya hidup membuat penyesalan akhir datang padaku. Mengapa aku tidak membanggakannya sejak dulu? Mengapa pula sejak beliau dekat, aku tak membuat suasana itu lebih berarti? Sungguh. Jika aku sebuah jam dinding, ku putar waktu 3 tahun lebih lambat dari hari itu. Aku ingin selamanya melihatnya hadir dalam setiap saat tepat pada jam ke-enam di hari Selasa, jam pertama di hari Jumat, juga jam terakhir di hari Sabtu. 1 jam pun terlampaui untuk menatap wajahnya dahulu. Kini, semenit pun tak tentu kubisa memandang wajahnya. Hiruk pikuknya hidup yang tak mudah di jalani. Jam - jam itu terasa sunyi tanpa bahasa yang baku, tanpa sebutan nomor absen, dan tanpa murid yang mencuci muka untuk menghilangkan kantuk. Jam – jam itu pula ku lewati bersama sang guru pengganti yang sangat berbeda dengan beliau.
Seperti halnya kita telah terbiasa meminum air mineral namun harus meminum obat nyamuk. Terasa sangat berbeda. Bahkan berbeda tiga ratus enam puluh derajat sekalipun.
Persegi panjang bersampul coklat bertuliskan
“Catatan Bahasa Indonesia” di perkirakan akan kusam dan terlantar bahkan tak
tersentuh sekalipun tanpa beliau. Buku
yang kini penuh dengan latihan-latihan pun sedikit demi sedikit
tinggalah satu lembar untuk yang terakhir. Masih ku rindukan Surah Al-Fatihah dan doa belajar yang di
ucapkan secara lisan pada saat pelajaran pertama itu di mulai. Tak ku lihat
lagi binar mata dengan telinga tertutup mendengar nama murid yang di sebutkan
untuk ‘remedial bahasa Indonesia’ Tak ku dengar lagi seseorang yang menyuruh
untuk merapikan tanaman yang berada di depan kelas. Lain halnya dengan citraan
dalam puisi, aku tak mendengar, melihat, ataupun merasakan lagi semua itu.
Semua itu hanya terasa seperti mimpi belaka. Apakah iya aku tak pernah mengenal
beliau?
Hal itu telah di buktikan pada Kamis sore itu. Sang pahlawan pendidikan sastra itu nyata. Aku melihat sosoknya yang tangguh berdiri di depanku dan seketika itu ia memelukku. Aku sangat rindu padanya. Ingin rasanya kami bertemu sepanjang waktu. Ingin rasanya membawanya kembali pada suasana sekolah. Hari itu telah tercairkan oleh tetesan air mata kerinduan. Gang Anggrek no. 68 . Suasana yang ramai oleh murid-murid TPA yang berdatangan. Tak lupa dengan taman yang di penuhi banyak tanaman yang membuat rumah itu terasa asri dan sejuk. Sosok yang tabah itu pun melepas kerinduannya. Tidak lama. Bagiku itu bukan waktu yang cukup. Itu pun berbeda. Suasana rumah sangat berbeda dengan suasana kelas. Tapi tak apalah, aku sangat puas bisa menatap kembali senyuman indah itu.
Jika aku menjadi rumus matematika, aku tidak akan memilih segitiga, persegi, trapesium, atau jajar genjang. Karena mereka memiliki sudut-sudut yang berujung. Aku juga tak akan memilih tiga buah setengah lingkaran, karena aku akan memilih sebuah lingkaran penuh. Sebuah lingkaran penuh yang tiada akhir, sama halnya dengan rel kereta yang tak berujung. Sebuah kereta hanya akan berhenti pada stasiun tersendiri. Mungkin itu hanya sebuah teori. Anggap saja stasiun itu adalah ambang kematian. Semoga, sama halnya pula dengan pertemuan ini aku berharap pertemuan ini tiada ujung dan hanya kematian yang dapat mengakhirinya. Tuhan… Jangan jadikan ini pertemuan terakhirku dengannya. Tuhan… jika ini adalah yang terakhir, tolong sampaikan padanya.. Tak akan pernah ku lupa , kenangan di gang anggrek Kamis sore itu.
-Special for Bu Tati-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
What's on your mind?